{"id":808,"date":"2014-04-12T17:37:34","date_gmt":"2014-04-12T10:37:34","guid":{"rendered":"http:\/\/www.kajiedan.com\/?p=808"},"modified":"2016-11-11T03:08:01","modified_gmt":"2016-11-11T03:08:01","slug":"lomba-lari-lompat-gawang-yang-tak-pernah-finish","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/2014\/04\/12\/lomba-lari-lompat-gawang-yang-tak-pernah-finish\/","title":{"rendered":"\u2018Lomba Lari Lompat Gawang\u2019 yang tak pernah finish.."},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_809\" aria-describedby=\"caption-attachment-809\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-809\" src=\"https:\/\/kajiedan.co\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/lomba-lari-gawang.jpg\" alt=\"Dalam kehidupan nyata, rintangan yang akan kita lompati sangat.. sangat.. sangat variatif, tanpa aba-aba.. dan hanya kita sendiri yang bisa menentukan dan mengerti kapan mulainya..\" width=\"300\" height=\"189\" srcset=\"https:\/\/kajiedan.co\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/lomba-lari-gawang.jpg 535w, https:\/\/kajiedan.co\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/lomba-lari-gawang-300x190.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-809\" class=\"wp-caption-text\">Dalam kehidupan nyata, rintangan yang akan kita lompati sangat.. sangat.. sangat variatif, tanpa aba-aba.. dan hanya kita sendiri yang bisa menentukan dan mengerti kapan mulainya..<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kapan itu ada temen saya yang ngeluh.. sudah beberapa kali dia pindah pekerjaan, tapi tetep saja nggak ketemu yang sesuai dengan maksud hatinya.. akhirnya dia pindah cari pekerjaan lain lagi, kalau ngga salah ini udah yang ke 4 kalinya dia pindah pekerjaan..<\/p>\n<p>Di tempat pekerjaan pertama dia punya masalah dengan teman sekamarnya..<br \/>\nDi tempat pekerjaan kedua dia ngga cocok dengan bossnya yang kelewat galak..<br \/>\nDi tempat pekerjaan ketiga dia bilang terlalu jauh dari rumahnya..<br \/>\nDi tempat pekerjaan keempat kebanyakan lembur..<br \/>\nDemikian seterusnya..<\/p>\n<p><strong>Kepada teman saya itu, saya bilang begini:<\/strong><\/p>\n<p>\u201c<em>Hidup ini persis kayak Lomba Lari Lompat Gawang.. kita yang harus lari dan melompati gawang penghalang tersebut.. jadi jangan pernah berharap gawangnya yang akan merendah pada saat akan kita lalui.. dan lebih hebatnya lagi.. ini tidak akan pernah ada finishnya.. yang ada hanyalah kita yang menyatakan berhenti dari lomba tersebut atau Allah memang \u2018memfinishkan\u2019 kita..<\/em>\u201d<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>Kira-kira penjelasannya begini..<\/strong><\/p>\n<p>Yang namanya Lomba Lari Lompat Gawang ya pasti akan begitu.. pokoknya lari, trus ada gawang yang musthi kita lompati.. bahkan, walaupun kita sudah jadi Atlit dan juara tingkat duniapun.. yaa tetep harus melompati gawang tersebut.. bukan berarti kalau kita udah jadi juara dunia trus bisa atau boleh nggak melompati..<\/p>\n<p>Yang ada hanyalah, kalau kita jadi juaranya.. berarti kita sudah sering ketemu dan berlatih melompati \u2018si gawang\u2019 tersebut.. sehingga lebih mudah atau lebih cepat dari yang lainnya..<\/p>\n<p><strong>Memang ada perbedaan yang signifikan tentang lomba ini dalam \u2018dunia Olahraga\u2019 dibandingkan dalam \u2018dunia nyata\u2019:<\/strong><\/p>\n<p>\u2022 Dalam \u2018dunia Olahraga\u2019, jarak tempuh lomba tertentu dan ada finishnya, gawang yang musthi kita lompati sudah ditentukan tingginya dan seragam, jarak antara gawangpun sudah diatur konstan, dimulainyapun ada aba-abanya.. sehingga mau 1 orang, 10 orang maupun ratusan orang ikut lomba ini, mereka akan mengalami lintasan yang sama, hambatan yang sama di arena yang sama..<\/p>\n<p>\u2022 Sedangkan dalam kehidupan nyata.. kita tidak akan pernah tahu jarak tempuh lomba, tidak akan ada finish, gawang..atau rintangan yang akan kita lompati sangat..sangat..sangat variatif, tanpa aba-aba.. dan hanya kita sendiri yang bisa menentukan dan mengerti kapan mulainya.. seorang peserta dengan peserta lainnya akan menghadapi hambatan yang berbeda.. bahkan sangat berbeda..<\/p>\n<p>Dalam \u2018dunia nyata\u2019.. teman kerja, boss, rekan bisnis, bapak, ibu, sodara, anak, istri, mertua, tetangga, masyarakat, suasana kantor, proyek, pelanggan, income (baik yg lebih maupun kurang), dan seterusnya itulah gawang-gawang yang harus kita lampaui..<\/p>\n<p>Kalau kita umpamakan tingkat kesulitannya dengan ketinggian, maka ada yang dapat kita lampaui hanya dengan \u2018lompatan\u2019 kecil, ada yang musthi kita loncati sambil kita injak \u2018si-gawang\u2019.. adapula yang harus kita \u2018daki\u2019..<\/p>\n<blockquote><p>Yang jelas.. dalam \u2018lomba\u2019 ini, kita sendirilah yang harus bisa mengatur strategi, mengatur energi, menentukan suatu rintangan itu kapan harus dilompati, kapan harus dilompati sambil diinjak atau kapan harus didaki.. karena ingat.. setelah kita selesai melompati satu gawang.. masih buanyak gawang-gawang lain di depan kita..<\/p><\/blockquote>\n<p>Kenapa koq saya bilang ngga\u2019 ada finishnya.. Lha gimana akan ada finishnya, Lha wong yang namanya \u2018pensiun\u2019 itu saja juga merupakan \u2018gawang\u2019 yang musthi kita lompati juga.. tapi yang jelas, saran saya.. jangan pernah berpikir bahwa menunda melompati salah satu rintangan atau mencari jalan pintas akan memperingan beban anda.. dia akan selalu muncul dan lebih membebani anda selama \u2018lomba\u2019..<\/p>\n<p><strong>Tips-Tips khusus untuk melompati gawang (menyelesaikan masalah)..<\/strong><br \/>\n<strong> (ini hanya berdasar yang pernah saya alami lho..)<\/strong><\/p>\n<p><strong>1. Bahasa<\/strong><br \/>\nCoba kita lihat kebelakang.. sepertinya faktor ini yang paling dominan menggagalkan kita dalam \u2018melompati\u2019 gawang.. sepertinya sepele, tapi ini yang paling sering terjadi.. Kalau saya andaikan:<br \/>\n\u2022 Ngomong sama \u2018<em>wong londo<\/em>\u2019 ya kudu <em>boso londo<\/em>..<br \/>\n\u2022 Ngomong sama \u2018<em>wong jepang<\/em>\u2019 ya kudu <em>boso jepang<\/em>..<br \/>\n\u2022 Ngomong sama \u2018<em>kyai<\/em>\u2019 ya kudu <em>boso kyai<\/em>..<br \/>\n\u2022 Ngomong sama \u2018<em>maling<\/em>\u2019 ya kudu <em>boso maling<\/em>..<\/p>\n<p>Di sini bukan berarti bahwa kita musthi bisa semua bahasa mereka.. Ya Enggris, ya Belanda, ya Batak, ya Arab..etc.. Tapi kita musthi selami mereka, kebiasaan mereka, pola pikir mereka.. sehingga kita ngomong seolah bagian dari kelompok mereka..<\/p>\n<p><strong>Seperti contohnya:<\/strong><br \/>\nkita masuk di gerombolan pemabuk.. tiba-tiba situ datang terus langsung ngomongin betapa berdosanya minuman keras.. betapa merusak kesehatannya obat terlarang.. betapa merugikannya Narkoba.. kiro-kiro apa hasilnya\u2026 <strong>dicueeekiiin..!!<\/strong><\/p>\n<p><strong>Contoh lain:<\/strong><br \/>\nKita sendiri kalau pas sedang belanja di pasar.. andai kita orang jawa, pasti akan merasa lebih senang berbelanja pada pedagang yang juga orang jawa.. mungkin karena pertama-tama berasa lebih enak ngomongnya..setelah itu kemudian timbul rasa akrab.. trus disusul timbulnya rasa percaya bahwa dia lebih murah daripada pedagang di sampingnya yang kebetulan saja orang batak.. trus akhirnya jadi langganan, tanpa pernah lagi ngecek harga kiri &amp; kanan.. padahal buanyak pedagang yang orang padang, batak sunda yang lebih murah dari pada \u2018si-jawa\u2019..<\/p>\n<p>Dari contoh di atas.. sebetul-betulnya yang di maksud \u2018BAHASA\u2019 itu bukan koq kita musthi fasih bahasa jawa ataupun ikut-ikutan mabuk.. tapi lebih ke arah kita musthi bisa membaca, memahami, menyelami calon lawan bicara kita agar lebih mudah menimbulkan rasa nyaman dan percaya pada mereka..<\/p>\n<p><strong>2. Posisikan kita sebagai mereka..<\/strong><br \/>\nKata-kata yang paling sering timbul dan kita pergunakan dalam menghadapi suatu rintangan, atau masalah terutamanya pertentangan adalah.. \u201c<em>Padahal kalau menurut saya<\/em>\u2026\u201d dan jarang sekali kita ngomong apalagi berpikir, \u201d<em>Mungkin, menurut mereka sebaiknya\u2026<\/em>\u201d<\/p>\n<p>Pada setiap saya mengalami jalan buntu pada sebuah \u2018perselisihan\u2019.. biasanya kemudian saya berhenti.. dan saya mencoba \u2018menjadi\u2019 mereka.. insya Allah nanti akan ketemu jalan tengahnya.. sebab akan jauh sekali berkurang kata-kata atau pemikiran, \u201cPadahal kalau menurut saya..\u201d..<\/p>\n<p>Memang tidak gampang bagi kita untuk mencoba memulai berpikir \u2018sebagai\u2019 mereka.. jangankan memulai.. untuk \u2018mau\u2019 saja kadang \u2018sisi ego\u2019 kita sudah menolaknya terlebih dahulu.. padahal percayalah.. ini kunci yang paling mudah.. dan paling murah..<\/p>\n<p>Dulu..dulu sekali, daripada ngantuk di dalam bis kota saya sering mempergunakan waktu untuk \u2018berandai\u2019 menjadi:<br \/>\n\u2022 Seorang direktur.. mbayangin andai punya perusaan yang guedhe, banyak anak buah &amp; ngatur mereka.. ngambil langkah-langkah trobosan.. mbayangin betapa senangnya para karyawan, jika saya bisa punya waktu mendatangi rumahnya, kenal satu persatu karyawan dan keluarganya.. (walaupun pada session \u2018mbayangin\u2019 kali ini akhirnya saya geli sendiri, lha trus kapan kerjanya kalo\u2019 tiap hari nyambangin kenalan sama keluarga karyawan.. he..he..)<\/p>\n<p>\u2022 Menjadi pengacara.. kalau nggak salah ini pernah tak bayangin pada saat saya KKN di Nglipar Gunung Kidul bareng sama adiknya Jaksa Agung waktu itu pak Karton (Alm) yang kebetulan berprofesi sbg pengacara.. Karena polah tingkah dan sifatnya.. aku njuk tergelitik untuk mbayangin bagaimana caranya menjadi Pengacara yang baik dan benar tapi tetep kudu sugiih.. tapi hasil \u2018bayanganku\u2019 pada saat itu.. menghapus KKN tersebut kayaknya susah dilaksanakan, ini terbukti dengan merebaknya kabeh \u2018pengacara\u2019 menjadi Sugih sejak jamannya Pak Harto Lengser dan kasus korupsi merebak.. malah,bahkan sekarang ini saya tambah bingung.. (tanpa bermaksud menuduh ataupun mencurigai) setelah dateng ke rumah Adnan Buyung Nasution.. Lha koq tiba-tiba beliau jadi suuugiiih poooll..??<\/p>\n<p>\u2022 Menjadi polisi Indonesia yang baik &amp; benar ning sugih.. \u2018mbayangke\u2019 ini timbul tahun 92-an saat pertama kali saya ikut belanja mesin photo copy bekas di Singapore.. ada 2 kejadian yang \u2018mempesonakan\u2019 saya waktu itu..<\/p>\n<p>PERTAMA: Ketika mobil yang kami pakai berhenti di tempat yang ada tanda larangan Parkir.. motor patroli hanya berhenti di belakang mobil kami dan menyalakan lampu motornya beberapa kali menyuruh kami jalan .. Spontan waktu itu saya Buiiinguung Poool.. Koq ngga\u2019 ditilang yaa..??<\/p>\n<p>KEDUA: Pas malam-malam saya makan Mc Donal di Orchard Road.. ada 4 orang pemuda tampil rapi naik sebuah mobil Mitsubishi Eterna berhenti ikut makan.. setelah ngobrol akhirnya tahu kalau mereka itu Polisi.. Dari kejadian PERTAMA &amp; KEDUA di atas.. kalau saya gabungkan malah jadi bingung aku.. Bagaimana mereka bisa tampil rapi &amp; sugih sedangkan mereka kayaknya tidak \u2018maruk\u2019 cari tilangan.. padahal Eterna waktu itu termasuk mobil mewah lho..<\/p>\n<p>\u2022 Bahkan saya pernah \u2018mbayangin\u2019 menjadi Menteri..\u2019mbayangin\u2019 yang pertama Menteri PU, ini sehubungan dengan usaha saya mencari cara agar terkabul permintaan kami dapat bantuan Gelagar Jembatan.. (lihat di cerita <a href=\"http:\/\/www.kajiedan.com\/mistery-jembatan-ngotho\/\">\u2018Misteri Jembatan Ngotho\u2019<\/a>) \u2018Mbayangin\u2019 menjadi Menteri yang baik &amp; benar tapi tetep sugih untuk kedua kalinya saya ulangi setelah kembali saya \u2018terpesonakan\u2019 oleh Singapore.. bayangin saya diajak oleh temen yang orang Singapore, ngobrolin perijinan pengembangan usaha eksport dia dengan menteri keuangan \u2018hanya\u2019 dengan minum kopi di lobby sebuah hotel.. Lha trus otomatis pikiran saya melayang-layang mbayangin andaikata saya jadi menteri di Negara kita dan saya terapkan caranya menteri Singapore itu.. trus kapan bisa \u2018ngomongin\u2019 dhuitnya yaa..??!! hehehe..<\/p>\n<p>Masih banyak lagi peran-peran yang pernah saya \u2018bayangin\u2019.. Mungkin \u2018latihan menjadi\u2019 tersebutlah yang mempermudah kita untuk mau dan dapat berpikir serta memposisikan diri kita sebagai \u2018mereka\u2019..<\/p>\n<p><strong>3. Jalani saja..<\/strong><br \/>\nKatanya agama,\u201d<em>Hidup di dunia ini hanyalah ujian saja.. dan Tuhan tidak akan pernah memberikan soal ujian yang tidak mampu dikerjakan oleh umatnya<\/em>\u201d \u2026<\/p>\n<p><strong>Maka kata saya,\u201dJalani saja..\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir seperti itu:<br \/>\n\u2022 Seperti ulangan (test) pas jaman sekolah.. Pada saat sekolah dulu, saya sering mengalami beberapa \u2018keanehan\u2019 yang membingungkan tentang ulangan.. Kadang saya berasa sudah sangat cukup belajar sehingga sangat yakin bisa mengerjakan ulangan dengan mudah.. dan saat mengerjakanpun saya berasa gampang.. Lha koq pas pembagian hasil ulangan.. nilainya 6.. Tapi kadang pula saya sudah kawatir dengan persiapan belajar yang minim, trus pas ulangan berasa \u2018pas-pasan\u2019.. Lha koq malah dapat nilai 7..<\/p>\n<p>Dan saya yakin andapun pasti pernah mengalami keberuntungan yang luar biasa tentang ulangan ini: Pas enggak atau lupa belajar.. Ulangannya mudah.. atau bahkan ditunda..<\/p>\n<p><strong>Maka kata saya,\u201d<em>Jalani saja..<\/em>\u201d<\/strong><\/p>\n<p>\u2022 Badai Pasti Berlalu.. Karena saya pernah ngalami masa sulit selama kurang lebih 11 tahun.. Maka sekarang-sekarang ini jika saya mengalami hal-hal yang sulit, saya selalu berjalan maju.. dengan satu pengharapan dan keyakinan..\u201dIni pasti akan berakhir..\u201d, entah besuk.. lusa.. tahun depan, atau bahkan mungkin 11 tahun yang akan datang..<\/p>\n<p><strong>Maka kata saya,\u201d<em>Jalani saja..<\/em>\u201d<\/strong><\/p>\n<p><strong>4. Jangan segan-segan berbagi perbekalan.. kalu perlu gratis..<\/strong><br \/>\nKita musthi selalu ingat.. Lomba ini tanpa finish.. dan masih buanyak \u2018gawang\u2019 yang harus kita lompati.. dan \u2018gawang-gawang\u2019 yang telah kita laluipun kebanyakan bukan karena \u2018Lompatan tunggal\u2019 kita.. Masih banyak \u2018lompatan-lompatan\u2019 di depan yang kita juga akan butuh bantuan orang lain.. maka kalau pas kita punya kesempatan membantu.. bantulah..<\/p>\n<p>Dulu.. pertama kali lihat Rudy Choirudin tampil di TV membeberkan rahasia-rahasia resep masakannya, bingung aku. Koq berani-beraninya dia memberikan seluruh rahasianya ke orang lain.. di TV lagi..<\/p>\n<p>Tapi sekian saat kemudian saya mikir.. dan mungkin juga Rudy Choirudin berpikir sama seperti yang tak pikirkan.. \u201c<em>Resep atau Teori boleh sama.. tapi di tangan orang lain hasilnya pasti akan lain..<\/em>\u201d. Kalau ngga percaya coba perhatikan.. warung-warung Indomie bertebaran di Jakarta, tapi rasane belum pernah aku nemuin yang rasanya sama..<\/p>\n<p>Jadi.. jangan takut-takut bagi-bagi Resep, Teory, atau pengalaman kepada orang yang membutuhkan..<\/p>\n<p><strong>Lha terus kalo masalah amunisi..dhuit..??<\/strong><br \/>\nOjo Kawatiir.. Bukankah Tuhannya kita udah njanjiin.. \u201c<em>Beramal itu kayak Amway.. MLM.. Satu Biji amal akan tumbuh 7 batang, dan masing-masing batang akan tumbuh 100 buah..<\/em>\u201d\u00a0 Jadi saya pegang aja janji-Nya..<\/p>\n<p>Dadi kalau nyumbang 1 jt saya pasti akan mendapatkan hasil 700 juta.. Aman.. dan Pasti..!! KarenaTuhannya kita sudah janji.. hanya saja ada kata lanjutan dariNya yang kadang membuat sebagian manusia ragu, \u201c<em>Kalaupun Aku tidak sempat memberikannya di dunia.. maka akan tercatat sebagai amalanmu..<\/em>\u201d\u00a0 (Tapi apapun..Ini yang membuat saya tidak perah ikut bisnis MLM kayak Amway atau CNI.. Lha gimana, Amway-nya Gusti Allah itu Dunia akherat jee..)<\/p>\n<p><strong>Jadi Akhirnya saya putuskan..<\/strong><br \/>\nSetelah saya amankan dhuit kebutuhan setahun anak istri saya.. sisanya tak pakai untuk mengembangkan bisnis saya.. dan sekitar <em>40%nya saya belikan saham Amwaynya Allah..<\/em> Karena saya yakin Tuhan kita itu nggak bakalan nglariin modal kita..<\/p>\n<p>Jadi saya rasa.. walaupun sangat tiiiipiiis perbedaanya.. saya yakini bahwa..<\/p>\n<p><strong>Hemat Perlu.. Tapi Pelit itu Haram..!!<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>(Re-launch dari tulisan Kaji Edan pada Tanggal 8 September 2006)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapan itu ada temen saya yang ngeluh.. sudah beberapa kali dia pindah pekerjaan, tapi tetep saja nggak ketemu yang sesuai<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":809,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-petuah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=808"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/808\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2806,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/808\/revisions\/2806"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}