{"id":60,"date":"2006-06-08T10:21:50","date_gmt":"2006-06-08T10:21:50","guid":{"rendered":"http:\/\/www.kajiedan.com\/?p=60"},"modified":"2006-06-08T10:21:50","modified_gmt":"2006-06-08T10:21:50","slug":"tentang-nama-kaji-edan-dan-obyek-penderita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/2006\/06\/08\/tentang-nama-kaji-edan-dan-obyek-penderita\/","title":{"rendered":"Tentang Nama &#8216;Kaji Edan&#8217; dan &#8216;Obyek Penderita&#8217;"},"content":{"rendered":"<div>Banyak yang bertanya kenapa saya menyebut diri &#8216;Kaji Edan&#8217; alias &#8216;Haji Gila&#8217;? Ini penjelasan saya..Tadinya, maksud saya si\u201dKaji Edan\u2019 itu hanya untuk menggampangkan orang-orang yang pernah mendengar untuk mengingatnya..dan ingat bahwa:<br \/>\n\u2022 menjadi Haji itu sebenarnya benar-benar murni hanya \u2018urusanku dengan Allah dan tidak hanya sekedar gelar yang bisa dan dianggap perlu ditulis di depan sebuah nama.<br \/>\n\u2022 Menjadi Haji itu harus bisa menjadi panutan siapa saja..termasuk pemeluk agama lain..jadi tidak hanya mengurusi pengajian, masjid dan umat Islam saja,<\/p>\n<p>Kalau kalimat di atas dirumuskan dengan &#8216;bahasa kyai&#8217;, kira-kira penjelasannya sebagai berikut:<\/p>\n<p>\u201cHabluminAllah itu urusannya hanya antara H. Onny dengan Allah, tapi kalau Habluminannas itu urusannya \u2018Kaji Edan\u2019 dengan siapa saja..\u201d<\/p>\n<p>Jadi, oleh karenanya, Kaji Edan harus bisa menceritakan sesungguh-sungguhnya yang terjadi tanpa harus menutup-nutupi kekurangannya..sebab saya meyakini bahwa cerita-cerita negatif tentang dan yang dipunyai oleh Kaji Edan pastilah ada hikmahnya yang dapat dipetik sebagai pelajaran dan itupun pasti terjadi karena ridhlo Allah..<br \/>\n<!--more--><br \/>\nBerarti..masih menurut Kaji Edan.. apapun yang negatif di sisi pelaksanaan dan pemahaman tentang agama kita, ada baiknya umatNya yang lainpun sebagai \u2018koco benggolo\u2019 (cermin-red).<\/p>\n<p>Lagian sekarang-sekarang ini banyak \u2018Kaji-Kaji dari berbagai agama\u2019 yang berkelakuan dan moralnya \u2018lebih hebat\u2019 dari yang belum atau bukan Kaji.. (korupsi, mbobol Negara, menjual Negara, dll..). Dan bahkan yang \u2018Kaji beneran\u2019 berkotbah <em>mbagus-mbagusin agamanya dan njelek-njelekin agomo liyo..<\/em> (liyo=lain)<\/p>\n<p>Makanya, nama \u2018Kaji Edan\u2019 dipakai untuk mencoba mengajak memandang bahwa kita sama-sama sebagai \u2018Obyek Penderita\u2019.<\/p>\n<p>Kita ini hanya \u2018obyek penderita\u2019 atas sekenario besar Tuhan. Yang kita sendiri (selama masih hidup di dunia ini) tidak akan pernah tahu apakah kita akan masuk \u2018Surga\u2019 ataupun \u2018Neraka\u2019, karena hal tersebut adalah hak \u2018Prerogatif Tuhan\u2019.<\/p>\n<p>Seperti halnya kita memilih pasangan hidup.. tidak akan pernah bisa kita memastikan bahwa \u2018pacar kita\u2019 akan tetap sebaik, serapi, secantik, setabah, sesetia, seserasi, setidak pelit, setidak ngorok serta se-se yang lain setelah kita pilih dan kita jadikan dia sebagai pasangan hidup, sebab itu juga termasuk hak \u2018Prerogatif Tuhan\u2019<\/p>\n<p>seorang Kaji pasti akan ngomong dan menganggap Agamanya paling bagus dan benar.. karena dia pandang Agama itu dari sudut Al Quran yang selalu dia baca (yang belum tentu dia pahami..), sedemikian halnya seorang Pastor pasti akan menganggap Agamanya paling Bagus dan benar.<\/p>\n<p>Oleh karenanya.. kaji edan ingin mengajak (tanpa ingin mempengaruhi, mengaburkan ataupun menyama-ratakan.. dan tentu saja bagi yang berpikiran sama..) kita untuk melihat \u2018kehidupan\u2019 dari sisi pandang bahwa kita sama-sama sebagai \u2018Obyek Penderita\u2019.<\/p>\n<p>Bukankah yang membedakan manusia <strong>di hadapan Tuhan <\/strong>adalah &#8216;takwa&#8217;, sementara kita juga diserukan untuk berlomba dengan manusia lainnya dalam berbuat kebaikan?<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang bertanya kenapa saya menyebut diri &#8216;Kaji Edan&#8217; alias &#8216;Haji Gila&#8217;? Ini penjelasan saya..Tadinya, maksud saya si\u201dKaji Edan\u2019 itu<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-60","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tentang-penulis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}