{"id":50,"date":"2006-06-03T09:16:17","date_gmt":"2006-06-03T02:16:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.kajiedan.com\/?p=50"},"modified":"2006-06-03T09:16:17","modified_gmt":"2006-06-03T02:16:17","slug":"mudah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/2006\/06\/03\/mudah\/","title":{"rendered":"Mudah"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/photos1.blogger.com\/blogger\/4065\/1102\/1600\/mudah.jpg\"><img decoding=\"async\" style=\"float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;\" src=\"http:\/\/photos1.blogger.com\/blogger\/4065\/1102\/320\/mudah.jpg\" border=\"0\" alt=\"\" \/><\/a>Esai Widi Yarmanto (GATRA)<\/p>\n<p>DALAM hidup pasti ada masa di mana  seseorang berubah dan dimudahkan Allah. Sengsara, difitnah orang,  dipermalukan, sakit, misalnya, bisa menjadi pintu perubahan. Itu yang  dialami Onny setelah koma sebulan dari kecelakaan pada 1995.<\/p>\n<p>Begitu  &#8220;bangun&#8221; dari tidurnya, ia berubah sensitif. Allah seolah membuka mata  &#8220;ketiganya&#8221;. Perilaku orang-orang yang membesuk dia tergambar jelas.  Yang busuk, culas, dengki mewujud nyata. Seperti rekaman yang diputar  ulang.<\/p>\n<p>Buntut dari sensitivitas itu, dendamnya jadi mencuat.  Akhirnya, kesadaran Onny tergugah. Ia berkesimpulan: &#8220;Jika otak ini  dijejali pikiran negatif terus, hidup saya tak akan nyaman.&#8221; Maka,  perasaan dendam itu ditekan, sampai kerak terakhir. Hasilnya luar biasa.  Ia jadi penyabar. Sifat jagoannya lenyap.<!--more--><\/p>\n<p>Dulu, jika mobilnya  disalip kendaraan lain seenak udel, misalnya, emosinya kontan meledak.  Mobil itu dikejar, dan bisa-bisa si pengendara dihajar. Seolah ia ingin  memberi pelajaran agar orang tidak berlalu lintas semaunya.<\/p>\n<p>Begitulah!  Sebagai mualaf, Onny pergi haji pada 1997. Dan, tahun ini untuk yang  kedua kalinya ia ke Tanah Suci lagi, tanpa direncana. Ceritanya, suatu  hari ia ditawari teman untuk pergi haji memakai paspor hijau. &#8220;Saya  diaku TKI, sebagai juru masak,&#8221; katanya sepulang berhaji, dua pekan  lalu.<\/p>\n<p>Dari enam TKI pemohon visa, dua di-oke-kan termasuk dia.  Tiba di Jeddah, dari enam orang TKI sepenerbangan, empat dipulangkan.  Lagi-lagi langkah Onny dimudahkan. Pemeriksaan imigrasi lancar. Bahkan,  petugas sempat meladeni dia kayak raja. Paspornya dicap tanpa ditanya  ba-bi-bu. Tas bawaannya pun tak disentuh.<\/p>\n<p>Pemeriksaan dirinya  cuma beberapa menit, padahal, orang lain menunggu paling tidak dua jam.  Yang mengherankan lagi, taksi yang ditumpanginya dipersilakan lewat di  dua pintu check point. &#8220;Muka petugas seperti ditutupi tabir,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Namun,  di Tanah Suci, Onny mengaku tetap &#8220;dijewer&#8221; Allah. Di depan Ka&#8217;bah,  misalnya, rekannya bertanya: &#8220;Kenapa ONH kita mahal, ya? Padahal  Malaysia lebih murah.&#8221; Onny menjawab sekenanya: &#8220;Ya, pindahkan saja  Ka&#8217;bah ke Monas, pasti ONH lebih murah.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Masya Allah!&#8221; ujar  temannya keheranan. Buru-buru Onny membekap mulut, meralat  kelancangannya. Ia jadi teringat musim haji 1997. Waktu itu, usai tawaf,  ia membasuh muka dengan air zamzam sembari berdoa: &#8220;Ya, Allah berilah  kesehatan pada mataku.&#8221;Seketika itu pula, mata minusnya jadi terang.  &#8220;Tanpa kaca mata saya bisa melihat orang di lantai dua. Mata ini bisa  kayak men-zoom,&#8221; katanya. Wajahnya berbinar-binar. Rasanya, tiada nikmat  lain selain saat itu.<\/p>\n<p>Lalu, agar khusyuk berdoa, bersama  ayahnya, Onny ke lantai dua. Pas di lantai tangga Masjidil Haram,  ayahnya berbisik: &#8220;Lihat, ada wanita sangat cantik!&#8221; Begitu memandang  wanita itu, mulut Onny seakan terkunci. Itulah wanita tercantik yang  pernah dilihatnya. Anehnya, setelah itu, &#8220;Prepet-prepet mata saya  kembali kabur,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Pengalaman haji 1997 itulah yang  mendorong dia selalu menjaga ucapan, pikiran dan tindakannya. Tapi, Onny  mengaku tak bisa diam dari keusilan. Ceritanya, selagi salat, ia  melirik seorang berkulit hitam yang salat seenaknya, hingga menutupi  tempat sujudnya. Dan, di telapak kaki orang itu menempal tanah.  Konsentrasinya buyar. Ia pun membatin: &#8220;Jorok! Salat kok tidak wudlu.&#8221;<\/p>\n<p>Anehnya,  pas ia bersujud, tahu-tahu kepalanya kayak diinjak orang. Ia ngomel  dalam hati. Anehnya, setelah itu, kaki Onny seperti kena serangan asam  urat. Dan rupanya, &#8220;jeweran&#8221; Allah tak berhenti di sini. Onny tak bisa  menahan kentut. Usai berwudlu ia kentut lagi, dan kentut lagi. Bahkan,  tinggal beberapa langkah dari sajadahnya pun ia batal lagi. Padahal,  tempat air wudlu itu sejauh 400 meter, dan ditempuhnya dengan tertatih  karena kakinya yang sakit.<\/p>\n<p>Di Mekkah, Onny juga mencari  oleh-oleh. Ia tertarik pada sebuah cincin bermata berlian imitasi.  Tiruan tak apa, yang penting bisa mencorong saat dipakai. Apalagi, di  atas mobil BMW. &#8220;Pasti tak ada yang nyangka ini palsu,&#8221; kata Onny.<\/p>\n<p>Persis  di saat kesombongannya terucap, mobil BMW-nya yang dipakai famili di  Tanah Air tabrakan. Ringsek! Dan, lagi-lagi, berita mobil penyok itu  dijawab enteng. &#8220;Nggak apa, kan mobil itu diasuransikan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Tapi  celakanya, berbarengan dengan klaim asuransi itu disetujui, Pakdenya  pasrah bongkokan minta uang padanya. Esoknya, famili yang lain juga  mohon dibantu. Dua cek dikeluarkan. Yang mengherankan, jumlah cek itu  persis senilai pembayaran dari asuransi. Ia geleng-geleng: &#8220;Mengapa bisa  persis?&#8221; Walhasil, perbaikan BMW itu seperti dari kantong sendiri.<\/p>\n<p>Namun,  &#8220;jeweran&#8221; Allah itu tetap disyukuri, jika membandingkan tragedi Mina  yang cuma beberapa menit berlalu. Pagi itu, sekitar pukul 09.00, ia  melempar jamrah. Tenang, tanpa berdesakan. &#8220;Setelah itu, saya minggir,  mencari ayam goreng,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Tiba-tiba beberapa helikopter  terbang rendah. Tahu-tahu, di depan matanya, orang-orang bergelimpangan  tak bernyawa. Tercatat 252 orang meninggal. &#8220;Masya Allah,&#8221; katanya. Itu  semua sudah kehendak Allah.<\/p>\n<p>Tepat di Idul Adha itu, Onny juga  &#8220;merayakan&#8221; ulang tahunnya ke-35 di depan Ka&#8217;bah. Hari itu, hijab atau  tirai penutup hatinya seperti dibuka melalui kemudahan demi kemudahan  yang ditunjukkan Allah. Hatinya jadi lebih sejuk. Tanpa terasa air  matanya mengucur, mensyukuri nikmat Allah.<\/p>\n<p>[Esai, GATRA, Edisi 16 Beredar Jumat 27 Februari 2004]<br \/>\nCatatan: Ilustrasi diambil dari Majalah GATRA pada artikel tersebut<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Esai Widi Yarmanto (GATRA) DALAM hidup pasti ada masa di mana seseorang berubah dan dimudahkan Allah. Sengsara, difitnah orang, dipermalukan,<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-50","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-jare-koncoku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}