{"id":48,"date":"2006-06-03T08:14:14","date_gmt":"2006-06-03T01:14:14","guid":{"rendered":"http:\/\/www.kajiedan.com\/?p=48"},"modified":"2006-06-03T08:14:14","modified_gmt":"2006-06-03T01:14:14","slug":"talang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/2006\/06\/03\/talang\/","title":{"rendered":"Talang"},"content":{"rendered":"<p>Esai Widi Yarmanto (GATRA)<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/photos1.blogger.com\/blogger\/4065\/1102\/1600\/talang.0.jpg\"><img decoding=\"async\" style=\"float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;\" src=\"http:\/\/photos1.blogger.com\/blogger\/4065\/1102\/320\/talang.0.jpg\" border=\"0\" alt=\"\" \/><\/a>KEAJAIBAN atau mukjizat dalam beberapa  pekan ini menyentuh kita. Berbarengan dengan &#8221;tontonan&#8221; mahadahsyat  gelombang tsunami dan gempa bumi yang memorak-porandakan wilayah Aceh  dan beberapa negara lain, Tuhan juga menyuguhkan kekecualian di luar  akal manusia.<\/p>\n<p>Misalnya, ada yang tergulung  ombak berlumpur hitam ratusan meter, tapi masih hidup. Ada bayi satu  setengah bulan yang nyangkut di bubungan rumah, tapi tetap sehat  walafiat walau beberapa hari tanpa makan-minum. Ada pula bocah yang  tiba-tiba &#8221;bangun&#8221; di antara ratusan jenazah yang siap dikuburkan.<\/p>\n<p>Gelombang  dahsyat yang menyingkir kala mendekati kompleks pemakaman Raja Samudra  Pasai di Desa Beuringen, Aceh Utara, juga jauh dari nalar normal. Waktu  itu, air hanya berputar-putar dan menjauhi pemakaman kerajaan Islam itu,  setelah menyapu manusia dan rumah-rumah di sekitarnya.<br \/>\n<!--more--><br \/>\nDi  kompleks tersebut, air cuma menggenang 15-20 sentimeter. &#8221;Padahal, di  luar kami, air sudah setinggi dua meter,&#8221; kata M. Yakob. Dari 30 kepala  keluarga yang berada di desa sejauh satu kilometer dari pantai itu, M.  Yakob adalah satu di antara 10 orang yang selamat karena berlindung di  makam.<\/p>\n<p>Mukjizat lain di depan mata adalah kisah Nyonya Agian Isna  Auli. Ia, yang koma pasca-operasi caesar sejak Juli 2004 itu, tiba-tiba  bangun dari tidur panjangnya. Dari hasil CT-Scan diketahui bahwa fungsi  organ tubuhnya mengalami disconnecting saraf otak. Harapan hidupnya pun  tipis.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, suami Agian, Panca Satriya Hasan Kesuma,  berkali-kali meminta agar istrinya di-euthanasia, disuntik mati saja  ketimbang penderitaannya berkepanjangan. Warga Bogor ini pun  mengutarakan niatnya pada DPRD Bogor dan ke Pengadilan Negeri Jakarta.  Syukurlah, tak dikabulkan.<\/p>\n<p>Dan, tiba-tiba Nyonya Agian siuman.  Ia, yang dulu tidak mampu merespons suara, kini bisa berbicara,  bercanda, dan bahkan mengingat potongan syair lagu kesukaannya: Goyang  Dombret. Memang memorinya belum sempurna, tapi surat Al-Fatihah mampu  dilafalkan utuh.<\/p>\n<p>Koma juga pernah dialami Ir. Onny Hendro, 35  tahun. Waktu itu, tahun 1995, rekan saya ini mengalami kecelakaan di tol  Cikampek. Mobilnya terbalik di jalur pembatas. Ia tak ingat siapa yang  nyopiri. Yang pasti, teman satu mobilnya meninggal setelah koma lebih  dari empat tahun.<\/p>\n<p>Onny &#8221;hanya&#8221; koma 25 hari. Dan, selama tidur  panjang itu, ia seperti menghadapi layar lebar perjalanan hidupnya.  Segala ulah Onny dan perilaku kenalan dia tersorot diputar ulang.  Buntutnya, begitu sadar, beragam kebusukan orang di layar itu melekat  pada otak Onny. Ia muak oleh kemunafikan mereka.<\/p>\n<p>Selain itu,  &#8221;Saya menjadi sensitif, peka,&#8221; katanya. Melihat seseorang, langsung  bisa membaca pikiran dan kelicikannya. Onny memang tak berani menjamin  ramalannya 100% jitu, tapi paling tidak 70-80% oke. Bukan hanya itu, ia  juga merasa ucapannya bertuah. &#8221;Saya takut bicara yang jelek-jelek,&#8221;  katanya.<\/p>\n<p>Maka, sifat pemarahnya pun ditekan. Bila ada orang yang  mencemooh, mencaci, menghina, memfitnah, bahkan seumpama meludahi pun,  tidak akan dibalasnya. Padahal, dulu Onny dikenal sebagai preman yang  main tempeleng. Perilakunya berubah total. Hidup itu harus bermanfaat  bagi orang lain.<\/p>\n<p>Kini Onny prihatin atas moral bangsa ini yang  nyaris hilang kepekaan dan tak punya rasa malu. Misalnya, tinggal di  kompleks mentereng, mobil berderet, tapi giliran dimintai sumbangan  untuk kepedulian sosial, aduh pelitnya minta ampun. Uangnya cuma  menetes. Tak sebanding dengan rezeki dari Allah.<\/p>\n<p>Maka, di mata  Onny, berbuat baik itu terasa jadi barang langka. Karena itu, ia ingin  memberi keteladanan. Nasihat &#8221;jika tangan kananmu memberi, tangan  kirimu jangan sampai tahu&#8221; tidak sepenuhnya disepakati. Ia memberi  justru berharap agar amalnya diketahui orang, dengan catatan: &#8221;Tuhan,  tolong tutup keran keriya&#8217;an saya.&#8221;<\/p>\n<p>Dan, jika Islam mewajibkan  zakat 2,5%, Onny bisa menyisikan 60% rezekinya untuk zakat, infak, dan  sedekah. Ia mengibaratkan diri sebagai talang air, yang sekadar basah.  Konsep meringankan umat ini, alhamdulillah, justru membuat rezeki Onny,  yang juga memiliki sekitar 100 karyawan itu, tidak pernah kekurangan.<\/p>\n<p>Rezeki  datang tanpa dinyana. Bayangkan, saat keluar dari rumah sakit, Onny  masih punya utang Rp 4 juta. Rumah dan mobilnya ludes. Tapi, enam bulan  kemudian, ekonominya pulih. &#8221;Itu sangat sulit dinalarkan. Tak masuk  akal,&#8221; katanya, sembari geleng-geleng kepala dan menyebut kebesaran  Allah.<\/p>\n<p>Hidupnya pun tanpa keserakahan. Jika ada sanak atau teman  perlu bantuan, ia tak segan-segan menolong. Kendati orang yang ditolong  itu belakangan ngemplang plus menjelek-jelekkan, Onny tetap menggusur  kebencian dari otaknya. Maka, kala rekan itu datang tanpa malu dan minta  tolong, &#8221;Ya, saya menolongnya,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Konsep &#8221;talang air&#8221;  tetap dijalani. Beberapa waktu lalu, Onny mengumrahkan 15 orang ke  Tanah Suci. Dan, belum lama ini, ia merayakan syukuran 10 tahun  pernikahannya. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Dari seorang  mantan guru SMA-nya. Namun, sebelum guru itu menyampaikan maksudnya,  Onny sempat berpikir negatif: &#8221;Ah, paling minta tolong!&#8221;<\/p>\n<p>Ternyata  salah. Guru itu hanya memohon maaf karena tidak bisa menghadiri pesta  syukuran Onny. Ayah dua anak ini langsung terdiam. Pikirannya yang kotor  membuatnya gelisah. Sanubarinya gundah. Rupanya, ia masih melihat dan  mendengar seseorang bukan dengan &#8221;mata hati&#8221;. Buntutnya, &#8221;Saya  menangis. Malu pada diri sendiri,&#8221; kata Onny.<\/p>\n<p>Saat itu,  sepertinya, Onny tengah dijewer Allah &#8211;sebelum pikiran buruknya  terlampau jauh menggerogoti diri. Membebaskan diri dari batin kotor  memang tidak mudah, kawan!<\/p>\n<p><a href=\"mailto:widi@gatra.com\"><strong>widi@gatra.com<\/strong><\/a><br \/>\n[Esai, Gatra Nomor 10 Beredar Jumat, 14 Januari 2005]<br \/>\nCatatan: Ilustrasi diambil dari Majalah GATRA pada artikel tersebut<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Esai Widi Yarmanto (GATRA) KEAJAIBAN atau mukjizat dalam beberapa pekan ini menyentuh kita. Berbarengan dengan &#8221;tontonan&#8221; mahadahsyat gelombang tsunami dan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-48","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-jare-koncoku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}