{"id":135,"date":"2008-12-10T02:07:35","date_gmt":"2008-12-10T02:07:35","guid":{"rendered":"http:\/\/www.kajiedan.com\/?p=135"},"modified":"2008-12-10T02:07:35","modified_gmt":"2008-12-10T02:07:35","slug":"sedekah-tidak-akan-membuat-kita-miskin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/2008\/12\/10\/sedekah-tidak-akan-membuat-kita-miskin\/","title":{"rendered":"Sedekah..Tidak akan membuat kita miskin.."},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #0000ff;\"><em>Di bagian tulisan ini.. Saya hanya berharap, smoga Tuhan tidak mengaktifkan \u2018Indikator Riya\u2019 dan tidak memandangNya dengan sebelah mata.. Insya Allah lebih besar sisi manfaatnya..<\/em><\/span><\/p>\n<p>Saya rasa, seluruh agama di dunia ini pasti menganjurkan yang namanya sedekah..<br \/>\nApapun istilah yang dipakainya.. tapi pokoknya mengajarkan kita untuk memberi kepada yang lebih membutuhkan..<\/p>\n<p>Terus terang.. saya dapatkan \u2018Nafas Sedekah\u2019 ini sejak masih Kristen, dari ajarannya bu Nari.. dan saya kawatir.. ini yang lebih mengakar di benak saya dari pada yang saya dapatkan dari pelajaran Islam, maupun setelah haji 2x.. Tapi saya ngga kawatir..toh Tuhan saya yang sekarang mencatat nilainya berdasarkan \u2018niatan\u2019 kita.. Beliau kayaknya nggak memasukkan ke dalam faktor penilaiannya tentang siapa yang mengajarkannya..<\/p>\n<p>Dan saya rasa lagi.. pahala Sedekah itu bukan hanya monopoli umat Islam saja.. pastilah Tuhan masing-masing (<span style=\"color: #0000ff;\"><em>ini hanya untuk mengakomodir bagi yang berasa Tuhannya beda dengan Tuhan teman kita<\/em><\/span>), yang Pasti.. \u2018niat\u2019 Sedekah itu yang kita perlukan, masalah dicatat atau tidak dicatat pahala sedekah kita.. itu hak prerogratif Tuhan.. dan kitapun akan menyadari dan mengetahuinya setelah nanti kita menghadapNya.<br \/>\n<!--more--><br \/>\nMenurut saya.. banyak yang terjebak dalam paradigma sempit, dan atau bahkan ada yang sengaja mempersempitnya agar menghalalkan pola pikirnya.. misalnya:<\/p>\n<ul>\n<li>Sedekah hanya bagi yang mampu.. Sedangkan mampu itu sendiri sangat relative, ini sering membuat kita entah sengaja atau tidak sengaja \u2018memasukkan\u2019 diri ke dalam golongan yang belum mampu.. sehingga merasa terlepas dari \u2018kewajiban\u2019 untuk bersedekah..<\/li>\n<\/ul>\n<p>bahkan ada juga yang memanfaatkan \u2018info\u2019 bahwa sedekah itu tidak wajib.. memang kayaknya tidak wajib.. tapi saya meyakini, paling tidak pahala dari sisi ini dapat membantu menstabilkan atau menyeimbangkan IPK kita di mata Tuhan.<\/p>\n<ul>\n<li>Sedekah yang dihitung pahalanya hanya yang diberikan kepada saudara seiman.. ini..ini..ini yang perlu kita buktikan besuk kalau kita pas udah dipanggil olehNya.. sebab menurutku sedekah adalah \u2018habluminnanas\u2019..atau hubungan horizontal jee..<\/li>\n<\/ul>\n<p>padahal sepengetahuanku.. Tuhanku yang sekarang pernah bersabda:\u201dBagimu agamamu dan Bagiku Agamaku\u201d so.. kiro-kiro artine situ nanggung resiko karena memeluk agamamu, sedangkan aku menanggung resiko karena memeluk agamaku.. jadi menurutku.. seharusnya.. kalo&#8217; kaji Onny memberi makan kepada \u2018terpidana PKI\u2019 bukan berarti kaji Onny trus pasti aktifis atau simpatisan PKI dan enggak dapet pahala ngasih makan si PKI.. lha ini masalah \u2018manusiawi\u2019 jee.. bukan \u2018Tuhanisasi\u2019..<\/p>\n<p>Jadi.. kalo aku.. daripada ragu.. aku jalani aja.. toh andai kata dinilai &#8216;0&#8217; pun kita nggak rugi.. kalopun dinilai negative.. nggak usah kawatir, toh seharusnya nilai komulatif ibadah kita yang lain udah numpuk.. jadi cuman akan mengurangi dikiiit.. trus kalau kawatir membuat nilai total sampeyan menjadi negative, lha itu berarti ada indikasi memang situ kurang amal\u2026 he..he..<\/p>\n<ul>\n<li>2,5% itu hanya batas minimal lho.. jangan malah dijadikan patokan atau malah menjadikannya 2,5% menjadi batas maksimal.. kalo&#8217; perlu 10%.. atau pun kalau memungkinkan 40%.. toh Tuhan saya yang sekarang sudah menjadikan pahala Sedekah itu dengan \u2018system MLM\u2019 koq.. inget ngga\u2019 katanya pak kyai itu.. setiap benih sedekah yang kita tabur akan tumbuh dengan 7 batang, dan masing-masing batang akan tumbuh 100 buah.. lha mbok kita bayangkan, jika 100 buah itu &#8216;gogrok&#8217; kena angin trus tumbuh lagi.. trus gimana cara kita mau ngetunginya..<\/li>\n<\/ul>\n<p>Trus karena penghitungan Zakat itu berdasarkan income tahunan.. trus ada yang terjebak mengeluarkannya setahun sekali.. JANGAN !!!..mendingan kita prediksikan aja dulu, trus kita keluarkan.. coba bayangin.. setahun itu 365 hari.. lha kalo&#8217; ndilalahnya hari ke 363 kita dipanggil olehNya.. mbalah ngga jadi dapet pahala situ.. mungkin malah didenda.. rugi khan..??<\/p>\n<p>Jadi menurutku.. wislah.. toh Tuhan kita wis menjanjikan pahala dan menjanjikan bahwa yang sedekah nggak mungkin mlarat.. Beliau khan menjanjikan bahwa Pahala sedekah kwi juga memperpanjang umur kita.. dan kita pasti akan memetik pahala sedekah itu..<\/p>\n<p>walau ada sedikit kata Beliau yang kadang menjadikan sebagian kita jadi ragu, yakni: \u201cKalaupun tidak sempat kau petik di dunia, maka kau akan memetiknya di akherat\u201d..<\/p>\n<p>Kalau aku.. Tak \u2018tantang\u2019 Tuhan (<span style=\"color: #0000ff;\"><em>dalam artian positif<\/em><\/span>) untuk membuktikan janji-janjiNya, kita banyakin amal sedekah kita biar tambah buanyak benih yang tumbuh..<\/p>\n<p>Kalo aku sangat meyakini sekali.. insya Allah yang telah menjadikan Allah memberikan saya hadiah \u2018Long-set\u2019 kehidupan..salah satunya adalah amalan ini..<\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\"><strong><em>SELAMAT MENCOBA..<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di bagian tulisan ini.. Saya hanya berharap, smoga Tuhan tidak mengaktifkan \u2018Indikator Riya\u2019 dan tidak memandangNya dengan sebelah mata.. Insya<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-135","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kajiedan.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}