Sungguh2 Terjadi

Al-Ikhlas (Kudeta Tak Berdarah)

Penanda berakhirnya masa untuk makan sahur, dikumandangkan 5 menit sebelum adzan subuh
Penanda berakhirnya masa untuk makan sahur, dikumandangkan 5 menit sebelum adzan subuh

Dulu itu, sangking senengnya saya diterima sebagai anggota baru anak-anak langgar Al-Ikhlas.. hampir tiap pulang sekolah saya main di Langgar itu, walaupun saya belum resmi masuk islam saat itu.

Langgar Al-Ikhlas itu terletak di pinggir jalan kecil yang membelah persis di tengah kampung kami, kalau dari rumah kontrakan saya, yaa kira-kira 500m lah, cukup lumayan jauh, bahkan suara adzan dari pengeras suara langgar tidak pernah sampai dan tidak terdengar dari rumah kontrakan kami yang berada di pojok kampung.

Ya maklum saja, selain kecil, langgar hibah keluarga Pak Maksum tersebut dan juga seluruh kampung kami memang belum kelewatan kabel listrik PLN,  jadi penerangannya masih pakai Lampu Petromax dan untuk pengeras suara kotbah maupun adzan masih menggunakan ‘Accu’.

Pak Maksum itu tokoh yang dihormati dan disegani di kampung kami, selain punya toko kecil yang menjual perlengkapan kebutuhan sehari-hari, Pak Maksum adalah ‘Bong Supit’ yang kondang, jadi beliau juga punya klinik khusus untuk ‘khitan’ di samping rumahnya. “Woo ya pantas kalau beliau bisa berkecukupan dan bahkan bisa menghibahkan tanah keluarganya untuk membangun langgar..”, batin hati saya.

Sekitar tahun 1979, di seluruh kelurahan baru hanya ada 2 toko kelontong saja, satu milik Pak Maksum dan satunya lagi milik Pak Kusdi yang posisinya jauh dari kampung saya,  jadi nggak seperti sekarang ini, setiap perempatan ada toko, setiap 50m ada Alfamart, terus disebrangnya pasti ada Indomart.

Saat itu, selain Ibu saya, Pak Maksum ini termasuk figur yang saya idolakan dan juga sekaligus menguatkan saya untuk terus bercita-cita agar kelak klo dewasa bisa menjadi “Orang Kaya yang Nikmat..”.

“Lho, Bukannya semua orang kaya itu nikmat??”, ujar temen-temen setiap kali mendengar cita-cita saya sejak kecil itu. Ngga tahu gimana mulainya kok dulu saya menyimpulkan bahwa ‘tidak setiap orang kaya itu nikmat’. Beberapa contoh orang kaya yang saya lihat atau saya kenal waktu itu kebanyakan terlihat sangat sibuk, sering keluar rumah, bahkan sering pulang hingga larut malam.

Misal bapaknya temen sekelas SD saya, beliau juragan batik yang hebat waktu itu, mobilnya lebih dari satu, bahkan punya sebuah Bis keluarga yang hanya digunakan jika keluarga besarnya bepergian bersama.

Tapi nggak tau kenapa ya kok saya tidak mengidolakan beliau? mungkin karena setiap kali mampir ke rumah mewah temen saya itu, juaaaraang banget ketemu bapaknya kali ya? trus klo sekalinya ketemu, beliau pasti sedang sibuk ngurusin batik-batiknyalah, karyawan-karyawannyalah atau urusan-urusan lain usahanya.

Bagi ‘Kajiedan Kecil’ waktu itu, sosok demikian itu adalah type ‘Orang Kaya Biasa’ atau orang kaya kebanyakan. Di mana setiap saat harus mikirin pekerjaannya, terus setiap saat harus bekerja terlalu keras, dan sering keluar rumah untuk mengejar rejekinya. Padahal, sebenar-benarnya kekayaannya pun sudah melimpah ruah.

Beda dengan Pak Maksum, usahanya di rumah, klo pas nggak ada yang khitan, beliau bergantian ama Ibu Maksum atau anak-anaknya melayani pembeli di tokonya. “Subhanallaaah.. rejekinya yang mendatangi kiosnya, kok bisa begitu ya???”, batin saya waktu itu setiap kali melihat pembeli yang bergantian masuk ke Toko Pak Maksum.

Setahu saya, hanya sesekali beliau ‘menjemput rejeki’ keluar rumah guna ‘memotong titit’ ke rumah pasiennya.. sebab kebanyakan rejeki-rejeki itu yang datang mengalir ke klinik Khitannya itu.. lha gimana coba?? kan biasanya ‘titit-titit kecil’ itu yang dibawa oleh orang tuanya nyamperin ke klinik Khitan samping rumah Pak Maksum untuk ‘dipangkas’ ujungnya..hehe.

Waktu itu saya benar-bener heran seheran-herannya. Nggak tahu gimana cara Allah mengatur rejekinya Pak Maksum?? kok bisa-bisanya rejeki yang datang kepada Pak Maksum dan keluarganya.

Sementara orang lain harus berlomba-lomba keluar rumah mencari rejeki,  ingat lho, mohon teman-teman pahami, orang-orang itu ‘mencari’ lho, belum tentu dapet dan bahkan bukan ‘menjemput’ rejekinya yang udah pasti buatnya.

Dan Rasa heran itulah yang membuat saya terus berusaha hingga sekarang untuk mencari jawaban serta rumusan agar bisa seperti Pak Maksum ataupun Ibu saya: “Rejeki tidak dikejar, tapi menghampiri keluarga mereka”

Dan hebatnya lagi, karena usahanya kebanyakan di rumah, maka beliau selalu sempet menjadi orang yang pertama kali datang dan adzan di langgar kecil samping rumahnya itu. Oh yaa.., beliau pulalah yang dulu meng-Islamkan saya, setelah lebih dari seminggu diajari tentang kalimat Syahadat oleh Mas Bambang keponakan beliau.

Tapi mosok hanya karena selalu tepat waktu ber-adzan serta menjadi imam di langgarnya, terus Allah kasih metode rezeki yang lain dengan orang lain ya??. Kira-kira ada syarat-syarat lain ngga ya??

Jangan-jangan memang hanya karena Pak Maksum benar-benar ikhlas melaksanakan ibadah sholat tepat waktu ya??. Atau hanya karena meng-ikhlaskan tanahnya untuk didirikan Langgar yaa??. Mosok hanya karena Pak Maksum selalu mengkumandangkan adzan untuk memberitahu tetangga sekitar agar segera melaksanakan sholat ??

Wis embuhlah, masih belum nemu saya rumusan tepatnya. Mungkin klo temen-temen bisa menyimpulkan dan membantu saya menemukan rumusannya, saya sangat menunggu informasi tersebut lho… “please email me..”

Tapi yang jelas, selain masalah rejeki, ada lagi satu ‘kenangan manis’ dari Pak Maksum yang hingga kini masih ‘menempel erat’ di pipi dan telinga saya.. hiiiiiksss..

Kisah sebenarnya gini..
Setelah resmi di-islamkan, saya jadi memiliki hak previllage seperti yang dimiliki Harsoyo, Kasih, Ngatimin dan teman-temen lain di kampung,  yakni “diijinkan tidur di langgar klo malam libur di bulan puasa”.

Bagi ‘Kajiedan Kecil’ tidur di langgar adalah pengalaman ruuuaarrr biasa..!! gimana nggak rruuuarr biasa??, lha waktu itu adalah kali pertama bagi saya diijinkan tidur di luar rumah.. pokoknya selain rumah simbah atau rumah saudara yang lain lho yaa.. “Benar-benar extraordinary”.

Dan lebiiiih hebatnya lagi, waktu itu ada teman yang paling kami tuakan yang memiliki sejuta ide dan idenya itu selalu luar biasa, Mas Harto namanya. Orangnya Ganteng, berkumis, ramah dan sangat menyayangi orang tuanya. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan dari seorang Mas Harto.

Biasanya sehabis sholat tarawih, kami anak-anak langgar Al-Ikhlas diajarinya keliling kampung mengumpulkan ‘beras jimpitan’ disetiap rumah, beras itu kemudian dimasak untuk makan sahur bersama nantinya, nah untuk lauknya, kami diajarinya mencari belut di sawah dan kadang ‘nyuluh’ ikan di sungai-sungai kampung kami.

Pada waktu jalan keliling kampung, setiap melewati kebun yang gelap, pohon besar yang rimbun, rumah kosong atau tempat-tempat yang angker lainnya, pasti Mas Harto akan menyuruh dua anak diantara kami untuk bergantian nyamperin tempat-tempat tersebut, “untuk melatih keberanian”, kata beliau waktu itu.

Bahkan pernah, satu persatu kami disuruh masuk ke makam keramat di pojok kampung. Dan atas nama kebranian serta kawatir diolok-olok sebagai penakut, akhirnya sayapun memaksakan keberanian diri ikut masuk ke dalam makam.

Aseeem tenan koq Mas Harto itu, waktu itu saya benar-benar mengalami yang namanya ‘Komplikasi Ketakutan’.. lha gimana nggak komplikasi..?? “Kalo matanya melèk saya takut ngliat batu nisan malem-malem.. tapi klo biar ngga takut, trus saya merem.., pasti nabrak batu nisan..!!!”.

Asseeeeem..aseeeeem.. Mas Harto Aseeeem tenan.

Tapi bisa jadi, karena ajaran Mas Harto itulah keberanian serta keusilan saya terbangun dan ‘tumbuh subur’ dalam diri saya, bahkan terus berkembang biak hingga sekarang😃😃..

Salah satu hasil Keberanian dan Keusilan saya saat itu adalah melakukan ‘Kudeta Tak Berdarah’ di Langgar Al-Ikhlas nya Pak Maksum.. bayangkan…!! saya rancang dan saya eksekusi seorang diri lho kudeta itu!!..

Kisah lebih detilnya gini..
Dulu itu, walaupun anak-anak boleh tidur di Langgar, tetapi ada ‘Konvensi Maksum’ yang mengharamkan anak-anak menyentuh Sound ‘TOA’ System di langgar, Sound System langgar adalah hak Prerogratif Pak Maksum untuk menggunakannya.

Paling-paling Si Budi temen Langgar yang kebetulan anak beliau yang boleh menyentuhnya, itupun sebatas dalam rangka merawat, membersihkannya serta nyetrum-kan Accu seminggu sekali.

Dan setiap malam puasa, mulai jam 02.00 Pak Maksum selalu bangun, sholat tahajud, dzikir sebentar, kemudian mengaktifkan Sound ‘TOA’ System,  trus lanjut mengeluarkan ‘FATWA’ rutin beliau dalam bahasa jawa yang halus,”Bapak-bapak, Ibu-ibu sakmeniko sampun pukul kalih, imsyak-ipun taksih kalih jam malih.. monggo-monggo wungu enggal masak.. sauuuuuuur..sauuuuur.. sauuuuuuuuur…”.

Maksud Pak Maksum adalah memberitahu para penduduk, terutama para ibu agar segera bangun dan memasak untuk sahur, sebab dua jam lagi udah masuk waktu imsya’..”.

Lha tapi gimana bisa pada bangun?? wong ngomongnya cuman pelan dan halus di mikrophone TOA tersebut, serta kalimatnya kurang bersemangat serta tidak mendorong para penduduk untuk segera banguun, kira-kira begitulah pemikiran ‘Kajiedan Kecil’ kala itu.

Dan selanjutnya ‘FATWA’ rutin tersebut akan beliau ulang-ulang setiap 30 menit dan nantinya beliau akan tutup 5 menit sebelum adzan subuh dengan sebuah teriakan panjang yang menandakan harus berakhirnya makan sahur.. “Imsyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak..!!!!!”

Peristiwa ‘Kudeta Tak Berdarah’ itu saya laksanakan pada suatu malam minggu, ketika itu jam di langgar sdh menunjukkan pukul 02.20.., lha kok tumben Pak Maksum belum bangun dan ‘berfatwa rutin’ yaa??.. Gara-gara itulah muncul ide saya untuk segera mengeksekusi ‘gagasan cemerlang’ saya.

Dengan perlahan tapi pasti, saya aktifkan Sound ‘TOA’ System Langgar.., kala itu saya sudah mempersiapkan ‘FATWA’ rutin versi saya sendiri dan saya meyakini sekali bahwa isi kalimatnya pasti akan lebih menggugah dibandingkan dengan ‘Kalimat Andalan’ Pak Maksum.

Ambil nafas dalam-dalam, konsentrasi sedikit dan mulailah ‘Kajiedan Kecil’ meneriakkannya,” Bapak-bapak, Ibu-ibu, imsyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak-ipun tasih kalih jam maliiih..!!!!!”

Selanjutnya bingung sayaa!!!
ternyata hasilnya jauh lebih dasyat dari espektasi sang ‘kajiedan kecil’.. Lha kok seketika jadi buanyaak gerombolan bapak-bapak yang dateng ke langgar sambil ngomel-ngomel.

Belum selesai bingung saya, tiba-tiba Pak Maksum sudah berdiri tepat dibelakang saya, lanjuut, sebuah ‘tamparan sayang’ persiiiiis mendarat di pipi dan telinga saya. “Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!”.. nggak selesai-selesai telinga saya berdenging..😩😩

Padahal kalo dicermati, kalimat yang saya teriakkan tuh kalo diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : “Bapak-bapak dan Ibu-ibu imsyaaaaaaaaaaaaaaknya masih dua jam lagi..!!!.

Coba perhatikan, nggak ada yang salah kan dengan kalimat tersebut???. Sebuah kalimat pemberitahuan biasa, yang saya harapkan bisa lebih ‘menggugah’.. hehe.

Setelahnya, lebih dari sebulan, peristiwa ‘Kudeta Tak Berdarah’ itu menjadi bahan pembicaraan terus di kalangan orang tua kampung saya,  ya di ceramah Jum’at lah,  ya di kultum taraweh lah, ya obrolan di pos ronda lah, maka terpojoklah ‘kajiedan kecil’ waktu itu.. sampai-sampai karena resah, hampir saja saya putuskan untuk balik lagi ke agamanya Mbah Amirah, “hadeew, susah bener sih jadi anggota langgar??”.

Dan sekarang, Langgar tersebut telah dipugar megah dan besar menjadi sebuah masjid.., lha kalau saya pas balik ke Jogja dan sholat di ‘Masjid Al-Ikhlas’ saya selalu senyam senyum sendiri dan otomatis teringat peristiwa ‘Kudeta tak Berdarah’ itu.

Bahkan, setelah 36 th berlalu,  selain tentang ‘rumusan rejeki’, kadang-kadang kalau pas puasa gini dan inget kejadian itu.. bunyi ‘ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing’-nya itu lho masih terdengar jelas di telinga saya dan masih selalu berdengiing setiap saya dengar pekik’an, “iiiiiiiiiiiiiimsyaaaaaaaaaaaaaaaaak” dari masjid atau radioo..😢😢😃

Pak Maksum, terima kasih ‘rumusan rejeki’ dan juga ‘ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing’-nya yess…

5,412 thoughts on “Al-Ikhlas (Kudeta Tak Berdarah)